SALAHKAH MENJADI FANGIRL?

Untuk kalian-kalian yang suka dan mengikuti perkembangan film serta musik barat pastinya sudah tidak asing dengan Fangirl. Fangirl sendiri artinya penggemar wanita atau gadis. Biasanya, cewek-cewek ini menggemari penyanyi, aktor, pemain band, dan lainnya. Nah, Fangirl sendiri bukan penggemar biasa, bisa dibilang mereka fanatik dan sangat mengikuti perkembangan idola mereka. Mulai dari perjalanan karir hingga hal-hal pribadi Sang Idola.

Tiap fans suatu band, penyanyi, aktor, aktris, penulis, bahkan tokoh fiksi legendaris  memiliki fandom atau panggilan tersendiri bagi penggemar mereka. Bisa dikatakan bahwa fangirl adalah penggemar fanatik bagi idola mereka. Misal saja “Directioners” untuk penggemar bintang pop Britania Raya “One Direction”, “Sherlockian” untuk penggemar detektif fiksi kebanggan London “Sherlock Holmes”, dan lain sebagainya. Panggilan tersebut biasanya dibuat oleh artis itu sendiri. Namun, dalam beberapa kasus justru penggemar sendirilah yang melabeli fandom mereka dengan nama tertentu. Tidak sedikit pula fangirl yang menggemari seseorang atau suatu film legendaris dengan fanatik namun tidak menamai diri mereka. Fangirl ini biasanya lebih terbuka dan tidak terfokus pada satu idola saja.

Fangirl sendiri tidak mengenal batasan usia. Meski begitu fangirl biasanya terdiri dari kalangan remaja putri yang sedang puber. Mereka yang masih dalam masa-masa awal mengenal cinta pada lawan jenis. Nah, idola para fangirl ini tentunya para lelaki tampan pujaan mereka masing-masing. Bahkan tak jarang beberapa fangirl akut yakin bahwa dewasa nanti mereka akan menikah dengan artis pujaan. Duh ngeri ya :s

Seorang Fangirl sangat identik dengan sosok yang berlebihan. Mereka rela mengeluarkan banyak uang demi idola. Hal tersebut tentu disayangkan, uang yang seharusnya bisa lebih berguna malah serasa dibuang dengan gampangnya. Mereka sering dicap tidak berguna. Hingga dianggap tidak memiliki kegiatan lain yang lebih bermanfaat selain menonton konser 2 jam dengan tiket yang harganya fantastis. Sering juga dalam kasus lain, misalnya rela datang jauh-jauh melintasi banyak kota demi “meet and greet” dengan penulis buku pujaan.

Salahkah? Menurut saya tidak sepenuhnya. Meskipun memiliki uang, namun sesuatu yang berlebihan dan segala sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik. Fans atau penggemar semestinya tau bahwa mengulik-ulik kehidupan pribadi seseorang itu tidak sopan. Harusnya mereka tahu kalau idolanya juga punya privasi. Fans juga harusnya lebih bijak dan tidak terlalu “ngoyo” demi idolanya. Seperti contoh di atas, rela merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk menonton konser. Jarang-jarang sih, tapi ya lihat situasi dompet dan sekolahnya juga dong.

Lalu bagaimana menjadi fangirl yang baik? Haruskah meninggalkan idola begitu saja? Jawabannya TIDAK! Alihkan saja kefanatikan seorang fangirl ke hal yang positif. Contohnya saja menjual pakaian yang berbau fandom tertentu. Misalnya mendirikan online shop yang barang-barangnya bertema Film Doraemon, soloist Ed Sheeran, Band The Beatles, dan lain sebagainya. Bisa juga menggambar karakter Film Harry Potter asal Inggris dan hasilnya dijual. Nah lebih menguntungkan bukan? Tukar mindset yang tadinya sebagai konsumen si pengeluar uang menjadi produsen yang mendapatkan uang. Menyenangkan bukan?

Seorang superstar tak akan ada harganya tanpa penggemar. So, boleh kok kita menjadi fans fanatik asal tahu batas kewajarannya.

Salam FANGIRL! (Aku juga Fangirl loh 😉 )

Iklan

GELAP

aaaa

Deru kendaraan masih satu-dua yang terdengar di muka gang. Jalan terjal dan lubang menganga seakan tak dianggap mereka ada. Suara daun sedang berdansa di bawah rembulan, riuh jangkrik menjadi pengiring mereka malam ini. Taburan bintang seakan menonton mereka dari kejauhan. Sudah larut malam ternyata.

Tanpa melirik jam tangan aku sudah tahu ini pukul berapa. Anak-anak nakal yang tadi berkumpul sudah hilang. Hanya bekas lumpur dari sandal dan bara api unggun yang mereka sisakan untuk purnama. Lumut-lumut yang aku jajaki sudah terlelap bersamaan dengan pulangnya matahari. Cuping hidung terasa semakin dingin, derap langkahku yang pelan terdengar begitu kencang. Rumah guru les ku sudah jauh tertinggal di belakang.

Sepeda motor sudah 3 jam lalu aku parkir di depan pintu rumah seorang teman. Sengaja aku titipkan agak jauh karena takut dijahili berandal kecil tadi.  Dia terlihat kesepian, dingin, dan minta pulang. Sama seperti tubuhku yang habis dimakan rindu. Setelah pamit dan ucapkan salam aku bergegas kembali. Kembali melewati jalan berlubang sehabis maghrib tadi. Kembali menerjang angin malam yang berhembus begitu kencang. Gemerlap bintang di langit malam seakan jadi candu. Tiap lampu jalan yang seakan semakin terang, membuatku ingat tiap-tiap kenangan dan memori bersamamu. Kamu yang mungkin sedang menyeruput kopi hitam atau menghisap rokok sebatang.

Setengah tahun ke depan mulai terbayang. Mulai tergambar jelas bagai lukisan kuda perang di dinding ruang tamu. Awan hitam berarakan menyoraki aku yang tak mau kesepian. Tiap-tiap gedung di sepanjang jalan sudah kosong, gelap tak berpenghuni. Samakah nantinya hidupku dengan mereka? Ditemani banyak kendaraan yang hanya lalu lalang dan tetap sendiri, tetap kesepian. Kau yang datang dan pergi begitu cepat. Sama seperti tas-tas yang di dalam loker kolam renang. Bahkan sebelum aku mengucapkan terima kasih kau sudah bersiap hendak pergi. Ada apa?

Harapan yang aku junjung setinggi gunung sudah meletus dan melebur. Kebersamaan yang hendak kurancang sudah terlanjur hilang. Pamitanmu kemarin sore membuat badai menyerang di tiap sendi tubuhku. Angin malam yang akan mengantarku pulang tiap malam. Aspal pekat perlambang duka malam ini semakin pekat dijatuhi getah nangka. Pikiranku melayang terlalu jauh hingga tak sadar mobil di depan mendadak berhenti. Badai emosi tadi ternyata menculik konsentrasi. Bunyi keras tabrakan menjadi simbol kekecewaanku sepanjang jalan ini. Tubuhku terhempas dan terlalu lemah untuk bangkit dari kegelapan. Rasa kantuk menuntuk kelopak mata perlahan turun. Bayangan wajah itu datang sesaat sebelum aku benar-benar tak mau bangun. Mati? Aku sudah mati sedetik setelah kau bilang mau pergi.

Hitam, kelam, dan duka.
Selamat Malam

Aku dan Annabelle

Setiap orang punya ketakutan masing-masing. Sesempurna manusia, setinggi apapun derajatnya pasti punya rasa takut satu atau dua juga nggakpapa kok. Nah, ketakutan tiap manusia itu ada banyak dan beda-beda. Tingkatan takutnya juga beda tergantung amal ibadah sebutir manusia. Wajar kok kalau kamu punya ketakutan. Aku tau kamu manusia jadi wajar. Aku juga tau kamu  single, mau nggak jadi pacarku?

Sama nih saya yang hanya manusia biasa ini juga parah norak sama sesuatu. Punya saya nggak aneh-aneh kok takutnya. Hamba Tuhan yang kadang bandel ini takut sama SETAN. Setan, iya setan kamu setan (eh). Kalau lebih diruncingkan sih saya takut sama yang berbau horror gitu deh. Cerita seram atau riddle malah yang saya suka (freak banget ya) tetapi jika sudah mendekat ke film horror saya lambai-lambai bendera putih duluan.

Semisal saja waktu lagi ramai-ramainya film Annabelle. Ceritanya saya jadi bonek dan nekat nonton. Yaaah, meskipun nontonnya sama teman-teman di kelas sih. Tapi kan pake LCD jadi Si Itu bakal keliatan lebih gede. Lebih-lebih pake speaker kelas yang bass-nya poll. Belum mulai saja saya sudah mencari tameng perlindungan.

“Panitia” nobar tanpa modal waktu itu sedang (sok) sibuk mempersiapkan peralatan. Detik-detik menegangkan sebelum film dimulai, saya sudah celingak-celinguk mencurigakan. Tenang, saya bukan maling duit atau barang kok, saya maling hatimu (eh). Agak gengsi juga sih kalau tutupan tas apalagi mojok di kelas sambil mengintip dari balik bangku dan meja. Bisa-bisa parno duluan mikir aneh-aneh. “Gimana kalau Annabele nya di belakang saya?” “Gimana kalau Annabelle nya nggelitikin kaki saya?” “Gimana kalau Annabelle nya nembak saya?” Duh mana film mau mulai. Detak jantung saya semakin cepat dan meradang (?). Jangan-jangan saya ada rasa sama Annabelle?

Akhirnya dengan senyum penuh modus saya berjalan dengan angkuh macam Shah Rukh Khan di film India. Langkah kaki dengan tegap laksana tentara hendak maju perang. Setelah balik kanan maju jalan saya mendekat ke Sava, teman saya. Tubuhnya yang indah itu duduk di atas meja (Awas jangan ditiru! Adegan berbahaya!) Tanpa curiga, dia mempersilakan saya untuk duduk tepat di belakangnya. Saya yakin betul, sebab pandangan mata belo nya mengisyaratkan demikian. Gerakan duduk dengan slowmotion saya lakukan demi menambah kesan seram. Punggung itu sangat amat cukup untuk menghalau pandangan. Hahahaha! Posisi itu enak banget buat sembunyi. Sumpah! Kalian nggak akan kelihatan sembunyi dan meringkuk ketakutan. Harga diri itu ada untuk dijaga (pfffrrtt)

Pembukaan film ternyata sudah dimulai. Suara keras dan menegangkan menggetarkan hati saya. Duh, belum apa-apa nyali sudah ciut begini. Tampang masih berusaha untuk stay cool dan berani padahal mah aslinya enggak! Ibu, aku mau pulang. Menelan seteguk demi seteguk air liur yang ternyata rasanya enak. Dalam perjalanan saya ketemu dan kenalan sama Annabelle, butiran keringat mengalir pelan. Tiap menit dengannya membuat jantung saya berdebar-debar, lalu sempat terhenti, lalu berdebar-debar lagi. Masa-masa saya bersamanya memang layak dikenang sepanjang hayat. Saya semakin yakin, kalau saya mencintai Annabelle lebih dari yang dia tahu.

Oke lanjut. Tak jarang saya “njindal” waktu dia atau temannya muncul tiba-tiba. Gengsi sudah tak saya pedulikan. Meski begitu, punggung Sava sudah tak berguna. Saya tak malu-malu lagi dengan Annabelle. Hanya saat-saat tertentu saja tangan ini mencengkeram erat tangan Sava. Maaf Annabelle aku tak bermaksud menyakitimu. Yah, meski beberapa kali doki-doki tetapi saya tak sampai gemetaran atau menggigil kok. Setakut-takutnya saya ya ngumpet dua detik abis itu nonton lagi. Labil? Biarin.

Sekitar 2 jam tanpa kedip tanpa bernafas dan diselingi lonjakan kecil. Akhirnya, saya selesai menonton Annabelle. BAYANGKAN. Pendapat saya tentang film ini adalah tidak semenakutkan yang dibayangkan. Saya mencoba menerobos rasa takut dengan menghadapinya. Bukannya tambah parno, ketakutan saya akan film horror justru berkurang.  Perlahan, semakin ke sini saya semakin berani menonton begituan. Saya jadi sadar kalau rasa takut saya timbul karena mindset yang aneh-aneh duluan. Coba kalau saya dibohongin, Annabelle itu nggak horror, pasti saya berani nonton sampai selesai tanpa sensor, tanpa bantal, tanpa punggungnya Sava.

Kesimpulan cerita saya berusan adalah… *jengjengjeng kedok saya kebukak. Mulai banyak teman yang sekarang tahu saya takut sama setan lebih-lebih film horror. Tak apalah mungkin mereka lelah (?)

DI KEJAUHAN

Angin semilir masuk melewati jendela kecil di samping kelas. Hiruk-pikuk lalu lintas di bawah sana agak samar namun terdengar. Panas terik masih terasa meski kami berada di dalam ruangan. Hanya gesekan daun yang mau bersuara, berdesir layaknya kereta di kejauhan. Kalimat terkahir aku rampungkan berharap bisa cepat-cepat terselesaikan. Teman sebangku sudah selesai dan santai sejak tadi. Kupandangi Ia sedang asyik bermain pensil diantara jemari. Nampak bosan pada keheningan pagi ini.

Sudah agak lama Pak Bayu keluar ruangan. Tugas sudah aku kumpulkan dan bergabung bersama teman-teman. Karyawisata sudah dekat dan kelas kami berencana membuat jumper berwarna seragam. Design dan tempat sudah ketemu warna bajunya sama dengan tasku dahulu. Diskusi kecil itu kami selingi gelak tawa dan canda. Meski begitu suasananya tetap renyah dan menghangatkan.

Merasa bosan bercenngkrama, aku kembali ke tempat semula. Rosalin, teman sebangkuku masih asyik bercanda ria kubiarkan saja. Angin yang sejak tadi melewati kelasku membuat rasa nyaman dan mengantuk. Mencoba membaca beberapa buku yang tadi pagi kubawa tapi percuma. Mata semakin merajuk minta beristirahat. Kepala kuletakkan di atas meja menghadap jendela selatan. Burung gereja sedang bertengger di atas tanaman paku. Dedaunan pohon nangka melindungi mereka dari terpaan raja semesta. Kulihat keduanya hinggap dari satu dahan ke dahan lain. Mungkin Si Jantan menarik perhatian Si Betina. Lima menit berlalu dan mereka terbang menjauh beriringan, bersamaan.

Selepas ditinggal pergi kedua burung, aku mencoba mencari sesuatu. Mungkin saja semakin kupandangi, pohon pohon yang bergoyang itu mampu memberi inspirasi. Imajinasi sesaat membawaku ke dunia lain. Membayangkan burung tadi membangun sebuah keluarga di atas tanaman paku. Mereka berjanji akan saling menjaga dan lahirlah buah hati. Mungkin tiap pagi anak-anak mereka akan mencicit kelaparan minta cacing atau sekadar biji kacang. Setidaknya, ada hal lain yang dapat membuatku tak lekas pulang.

Pak Bayu kembali dan membuyarkan imajiku. Kelas kembali hening tanpa suara seperti biasanya. Materi yang begitu banyak tak boleh dilewatkan begitu saja oleh kami. Satu persatu anak mengacungkan tangan tanda belum mengerti. Kurikulum 2013 mengharuskankami aktif dan selalu ingin tahu dan mau belajar. Tidak terasa, bel istrahat menggema begitu indahnya. Hampir semua temanku berhamburan keluar kelas sejenak melepas penat.
Selain menghemat uang jajan aku juga malas naik turun tangga untu ke kantin. Maklum, kelasku berada di lantai 2 sedangkan kantin berada di bawah. Beberapa teman yang tersisa menawariku beli jajan tapi kutolak dan lebih memilih berada di kelas. Cuaca panas di awal tahun ini membuat penjual minuman laris hingga riuh kedainya sampai di telingaku. Suasana skolah yang tadinya sepi bagai kota mati seakan berubah 180 derajat saat jam istirahat, lebih-lebih saat pulang. Namun, suara gaduh inilah yang membuatku rindu tiap libur semester tiba.

Kupandangi kelas ini masih sama seperti aku menempati 6 bulan lalu. Tiap sudutnya, bangkunya, tiap sekat keramiknya punya sesuatu. Sambil tersenyum sendiri sampailah mataku di jendela sebelah utara. Tertegun sejenak tak mengedipkan mata barang 5 detik lamanya. Bulan demi bulan berlalu dan baru tersadar ada sesuatu. Begitu elok, tampan, memikat, dan tidak disadari. Menjulang tinggi memaku bumi tegak tak gentar terkikis. Ya, Gunung Sindoro menampakkan dirinya di awal Bulan Januari. Mataku melihat langsung dari jendela kaca tanpa terhalang apa-apa. Hanya salib dari menara gereja yang terlihat seakan ikut memujanya.
Masih terpana dengan rasa takjub menyelimuti. Musim hujan lalu menjadi tempatnya sembunyi selama ini. Awan hitam menggumpal dengan petir bagai amarah zeus tak jarang menggelegar di sisinya. Matahari yang tadi pagi kubenci, kini kusayangi. Ia begitu baik menyihir awan agar mau menjafi sahabat Sang Paku Bumi. Langit seakan dilukis Da Vinci, begitu biru dan bersih.

Rumah-rumah penduduk di lereng nampak terang dan jelas. Kebun-kebun kentang berjajar rapi di bersandar di tepiannya. Siluet pohon menancap di hampir semua tubuhnya bagai kulit manusia. Puncaknya yang begitu indah itu serasa menyapa dan merayu tuk disambangi. Bentuknya yang terpampang jelas sebagai ciptaan agung Yang Kuasa. Selama ini aku kemana?
Tak bosan-bosan kupandani dia. Antara menyesal baru tersadar dan bersyukusudah diberi kesempatan. Hanya “Subhanallah” yang mampu bibir ini ucapkan. Terima kasih Tuhan, berilah kami umur panjang. Setidaknya dapat menikmati ciptaan-Mu yang amat rupawan itu. Izinkan kami untuk mati di tanah ini Tuhan. Tanah suci tanpa anarki penuh keajaiban.

10888669_491516167654492_938541020896243887_n